AMANAH

Dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 72 Allah SWT berfirman yang artinya : “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh” [S Al Ahzab 72 ].

Al-Amanah adalah isim masdar dari kata “Amuna, ya’munu, amanatan” yang berati jujur, yakni bisa dipercaya khususnya dalam tugas keagamaan.
Dalam kata tarikh perjuangan Rasul, amanah merupakan salah satu sifat di antara beberapa sifat yang wajib dimiliki oleh para Rasul. Mereka bersifat jujur dan bisa dipercaya dalam segala hal, terutama dalam urusan yang berkaitan dengan tugas-tugas kerasulannya,

Seperti menerima wahyu, menyampaikannya kepada manusia tanpa penambahan, pengurangan atau penukaran sedikitpun. Di samping itu mereka juga bersifat amanah, dari hal-hal yang dilarang Allah.

Dalam ayat tersebut diatas kata “Amanah” dipakai dalam pengertian yang amat luas, baik sebagai tugas keagamaan, maupun dalam tugas kemanusiaan pada umumnya. Allah telah menawarkan amanat kepada tujuh lapis langit, apakah ia sanggup memikul amanah itu yang akan diberikan Allah padanya, maka langit menolak amanat itu karena amanat itu sangat beratnya. Langit meminta agar ia dibiarkan saja seperti yang ada sekarang ini, tempat bintang-bintang bercahaya menembus angkasa dimalam hari,tampat matahari bersinar disiang hari. Langit ketujuh lapisnya menyatakan tak sanggup memikul amanah itu.

Allah pun menawarkan amanat itu kepada bumi, maka bumipun menyatakan penolakan-nya karena tanggung jawab memikul amanah itu amat beratnya. Kalaulah langit yang tinggi itu tak sanggup untuk memikulnya, apalagi bumi yang rendah ini. Maka Allah pun menawarkan amanat itu kepada gunung-gunung yang menjadi pasak bumi, tetapi gunung pun menyatakan keengganannya karena beratnya amanat itu. Kemudian amanat itu ditawarkan kepada manusia dan manusia menerimanya dengan segala resekonya yaitu barang siapa yang menunaikann amanat itu akan diberikan pahala dan dimasukkan kedalam surga dan sebaliknya barang siapa yang mengkhianatinya akan disiksa dan dimasukkan kedalam neraka
Langit yang tinggi ditawari amanat ia menolaknya, bumi yang luas tak bertepi ditawari amanat itu iapun menolaknya, gunung yang kokoh ditawari amanat juga menolak, tetapi anehnya manusia yang kecil dan lemah ditawari amanah malah menerimanya, manusia itu amat zalim lagi amat bodoh kata Allah. Ini terbukti ketika Allah menjadikan manusia pertama Adam lalu Allah melarang mendekati pohon larangan, tetapi Nabi Adam melanggarnya
Firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 35 yang artinya : “Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang orang-orang yang zalim”. Kemudian Nabi Adam mohon ampun [ bertaubat] kepada Allah dengan ucapannya yang Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalim diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat bagi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi”. [ Al ‘Araf 23 ].

Kemudian Allah menerima taubatnya sebagaimana dijelaskan Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 37.

Sangat bodoh kata Allah manusia yang sangat kecil dan lemah ini, berani-beraninya memikul amanah Allah yang belum tahu akan kemampuan dirinya, diterimanya amanat walaupun tak dapat menunaikannya. Kezaliman dan kebodohan manusia ialah mau menerima tugas, tetapi tak dapat melaksanakannya.

Mungkin karena dorongan hawa nafsu yang teramat besarnya, yang nyata-nyata tak dapat melaksanakan amanah tetapi selalu saja meminta-minta jabatan, mengejar-ngejar kedudukan, bahkan kalau perlu menjual kehormatan dan harga diri dengan politik uang, demi mendapatkan kedudukan.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya : “Apabila amanah diabaikan orang, maka tunggulah kehancurannya, lalu sahabat bertanya pada Rasulullah : Bagai mana amanah itu diabaikan orang ya Rasul. Beliau menjawab : Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. [H.R.Bukhari].

Boleh jadi bencana yang bertubu-tubi melanda negeri ini, karena kurang profesional para pejabat-pejabatnya dalam bidang pekerjaan masing-masing atau kurangnya rasa tanggung jawab dalam tugas yang diamanahkan kepadanya, karena ia duduk di jabatannya bukan untuk membantu rakyat, malah menggorogoti uang rakyat, memakai aji mumpung, akibatnya koropsi semakin mereja lela, rakyat semakin sengsara. Sekarang rakyat ini sengsara di atas sengsara, derita di atas derita. Pejabat yang diangkat bukan lagi karena keahliannya dibidang itu, tetapi karena KKN, karena ahlinya dibidang spesialis servis kepada atasannya. Kalau orang yang seperti ini memegang jabatan, apa yang diharapkan kata Rasul:”Tunggulah kehancurannya”.

Akan tetapi dalam sebuah hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tabrani Nabi kita menyebutkan bahwa salah satu hal yang jika dimiliki, maka pemiliknya sungguh kaya raya, sekalipun banyak kemegahan dunia yang tidak dicapainya, yaitu : “Hifdzul Amanah”, memelihara amanah. Dia kaya hati, jiwanya tenang walaupun hidupnya dalam kesedarhanaan.

Para ahli tafsir membagi amanah itu ada 4 macam :
1. Amanah Allah dan RasulNya kepada manusia yang wajib ditunaikannya seperti beriman kepada Allah, shalat, zakat, puasa, hajji dan sebagainya yang wajib diamalkan, begitu juga larangan yang wajib dijauhi.
2. Amanah kepada orang lain yang wajib ditunaikannya baik dalam rumah tangga, dalam masyarakat, apalagi sebagai pemimpin yang diamanahi rakyatnya, sehingga masyarakat, akan merasa aman dan tentram, bahagia dan sejehtera dalam kepemimpinannya.
3. Amanat Allah pada diri manusia sendiri yang wajib dipelihara. Setiap anggota badan adalah amanah, harus dijaga setiap sa’at dan akan dipertanggung-jawabkan dihadhirat Allah kelak. Abdullah bin Amr bin Ash salah seorang sehabat Nabi pernah mengatakan : “bahwa, amanat yang lebih penting dalam diri manusia ialah alat kelaminnya”. Beliau berkata pula : “Yang mula-mula diciptakan Allah dan paling penting dalam tubuh manusia ialah farajnya”. Faraj itu adalah amanah Allah yang hendaknya dipelihara baik-baik, sekali-kali jangan dipakai kalau bukan menurut ketentuan Allah, Kalau engkau pelihara amanat penting itu niscaya Allah akan memeliharamu pula sampai pada keturunanmu. Faraj itu adalah amanah, telinga itu adalah amanah, mata adalah amanah, lidah adalah amanah, perut adalah amanah, tangan adalah amanah, kakipun adalah amanah. Maka tidak ada iman bagi barang siapa yang tidak memelihara amanah. Dalam Surah Al isra 36 yang artinya : “Sesungguhnya pendengaran,penglihatan dan hati semuanya itu akan dipertanggung jawabkannya”
4. Amanah Allah pada manusia terhadap alam sekitarnya. Manusia wajib menjaga alam sekitar hidupnya, wajib melastarikannya agar jangan menjadi malapetaka terhadap kehidupannya. Sekarang manusia sudah merasakan akibatnya, apabila musim hujan kebanjiran, bila musim panas kekeringan, akibat penggundulan hutan yang terus menerus berlangsung, pembangunan gedung-gedung tanpa AMDAL dan tata ruang kota yang baik karena kepentingan sebagian orang, akibatnya pembuangan air tersumbat.
Allah telah memperingatkan dalam Surah Ar Rum ayat 41 yang artinya : “Telah timbul kerusakan didaratan dan dilautan disebabkan oleh tangan manusia. Allah hendak merasakan kepada manusia sebahagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka sadar kembali.

Memang sangat sulit mencari orang yang amanah, kalau yang pintar, S1, S2, DR dan Profesor banyak, tetapi orang yang amanah sukar dicari tak gampang didapat. Ditangan orang-orang yang amanah inilah kebahagiaan dan ketenteraman umat akan tercapai dibawah ridha Ilahy.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: