Apakah Hidup Itu

Alkisah, maka tersebutlah di dalam sebuah kitab pusaka Hindu, bahwa adalah seorang hartawan mempunyai seorang putera yang sangat dicintainya. Setelah genaplah usianya 12 tahun, dikirimnyalah putera itu pergi belajar ilmu yang penting-penting kepada para sarjana yang arif. Selesai belajar ke Timur, dikirimnya pula belajar ke Barat. Habis yang dipelajari di Selatan, dikirimnya pula ke Utara. 12 tahun pula dia meninggalkan kampung halaman orang tuanya, dan dalam usia 24 tahun diapun pulang. Uncangnya telah penuh dengan surat-surat ijazah. Tak ada lagi rahasia ilmu pengetahuan yang tidak diketahuinya.

Pada wajahnya kelihatan rasa sombong, sebab dia telah segala tahu. Orang lain kurang derajat daripadanya, sebab meereka tidak keluaran sekolah tinggi. Dengan tenang ayahnya memperhatikan sikap anaknya, yang kena sebagai pepatah orang tua-tua, “Bagai lonjak labu dibenam, melonjak naik karena kosong isinya. Bagai kacang direus sebuah, manari-nari dalam kuah karena tidak bertemu lawan.”

Si Ayah memandang anaknya sudah berilmu, tetapi belum berisi.

Adalah pada suatu hari, si ayah memanggil puteranya duduk di dekatnya dan dia berkata, “Anakku sayang Ayah lihat engkau pongah benar karena merasa pengetahuanmu sudah banyak. Cuama satu agaknya yang engkau belum tahu dan belum engkau pelajari. Ilmu yang belum engkau pelajari iu ialah ilmu yang akan melatih engkau supaya dapat mendengar perkara yang tidak dapat ditangkap oleh telinga. Dan dapat melihat perkara yang tidak dapat ditangkap oleh mata. Itulah inti dari segala ilmu. Dengan ilmu ini engkau dapat mengetahui perkara yang tidak diketahui oleh orang lain.”

Dengan tercengang si anak menjawab, “Ilmu apakah itu ayah? Belum pernah ananda mendengar, ada pula ilmu semacam itu.”

“Ilmu yang akan ayah ajarkan itu serupa dengan ilmu tanah.

Dari tanah orang dapat membuat berbagai aneka bentuk barang. Bila engkau mengetahui rahasia tanah dan pembentukannya, niscaya tahulah engkau sifat segala barang yang dibuat dari tanah. Tahulah engkau jika ada periuk, jika ada belanga, jika ada piala dan lain-lain, hanya namanya yang berbagai ragam, namun hakikatnya hanya satu, yaitu tanah. Tak lain dari tanah. Demikian pula ilmu yang akan ayah ajarkan ini. Jika engkau dapat mengetahui puncaknya, tahulah engkau segala sesuatu yang berasal daripadanya.”

Si anak menggeleng-gelengkan kepala, “Sudah banyak guru tempat hamba belajar, 12 tahun meninggalkan kampung, dari pondok ke pondok, dari asrama ke asrama, belum ada yang mengajarkan ilmu demikian kepada hamba.”

“Coba bawa buah pohon nigreda itu kemari!”

“Ini dia, ayah.” “Coba belah!”

“Sudah hamba belah, ayah.” “Apa yang engkau dapati dalamnya?” “Biji kecil-kecil, ayah.”

“Coba pecahkan pula sebuah dari biji-biji kecil itu!”

“Ini sudah hamba pecahkan!”

“Apa yang engkau lihat didalamnya?” “….Tidak ada apa-apa, ayah.”

“Engkau melihat buah itu dipetik dari pohon yang hidup. Tetapi setelah engkau pecahkan sampai kepada bijinya yang kecil, engkau tak melihat apa-apa. Maka yang idak engkau lihat itu, itulah dia Roh. Itulah dia hidup! Memang tidak nampak oleh matamu, tetapi roh yang idak nampak itulah yang menyebabkan pohon tegak, dia ada tapi tak nampak. Dialah yang menegakkan segala yang ada ini. Itulah Kebenaran, itulah nyawa, itulah aku, itulah engkau!”

“Baru sekali ini hamba mendengar keterangan demikian, ayah. tambah lagi, ayah, tambah lagi!”

“Ambil sececah garam itu, masukkan ke dalam secangkir air dan bawa ke hadapan ayah besok pagi!”

Perintah itu dilaksakan oleh si anak dan diwaktu subuh dia datang lagi duduk bersila dengan khidmat di hadapan ayahnya

“Bawa kemari garam kemarin!” kata si ayah.

“Hamba tak sanggup ayah, garam itu telah lenyap di dalam air.”

“Coba cicip air itu dari atas dan katakan kepada ayah betapa rasanya.”

“Asin!”

“Cicip di tengah!”

“Asin!”

“Cicip yang sebelah bawah!”

“Juga asin, ayah!”

“Tuangkanlah air itu di pasir di halaman rumah, dan datang lagi ke hadapanku besok pagi!”

Besok pagi si anak datang lagi. Mereka berdua pergi ke hadapan rumah menyaksikan bahwa air itu telah diisap oleh pasir, dan yang tinggal ialah garam putih.

“Demikianlah raga badanmu ini, anak. Engkau tidak sadar bahwa kebenaran itu ada di dalamnya. Laksana garam ada dalam air. Itulah dia roh! Itulah dia nyawa! Itulah dia aku, itulah dia engkau.”

HAMKA

Pandangan Hidup Muslim

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: